Tulisan ini berisi lintasan-lintasan pikiran penulis mengenai Qadha dan Qadar setelah membaca berbagai sumber referensi.
Begitu kita tidak mengetahui apa yang terjadi pada diri kita besok atau bahkan sedetik yang akan datang, yang disertai dengan kemampuan manusia dalam berencana untuk melakukan sebuah aksi, dengan bisikan-bisikan hati yang memicu timbulnya keinginan-keinginan untuk berbuat sesuatu itu, maka tidak ada kemampuan sedikitpun yang berasal dari kita untuk menentukan kadar hasil (akibat yang kita perbuat melainkan itu adalah ketentuan Allah). Kenapa dia merupakan ketentuan Allah karena rasa puas, rasa susah adalah Allah sendiri yang menciptakannya sebagai kategori penilaian untuk manusia dalam menilai apa yang telah diperbuatnya.
Persiapan yang matang adalah sebenarnya berasal dari pengetahuan manusia baik itu secara sadar maupun proses adaptasi manusia dalam memberikan respon akan pertanyaan-pertanyaan, serta kekhawatiran yang mengiringi dalam berbuat dan apa yang kita anggap sebagai hambatan dalam berusaha (mencapai sebuah keinginan hati) sebenarnya adalah sekumpulan pertanyaan yang mesti dijawab baik dengan bahasa hati, lisan, dan perbuatan badan dengan memamfaatkan sumberdaya yang telah Allah berikan disekeliling kita. Namun tabiat biasa sebagai manusia adalah ketidak mampuan kita dalam memahamai hakikat makna sebuah kejadian dan rencana. Seolah-olah pada hati dan otak kita ada ketertutupan yang menghalanginya untuk berada dalam posisi kepastian. Hal ini beragam sesuai dengan latar belakang dan kemampuan manusia itu sendiri dalam memahami makna-makna itu. dan benar adanya bahwa apapun itu, baik sebuah kejadian atau apa saja yang berada diluar pemahaman manusia adalah berada dalam pengetahuan Allah dan telah ditetapkan oleh Allah sendiri dengan ilmu dan hikmah-Nya sendiri.
Berangkat dari fenomena penyimpangan dari memahami takdir, mengapa sikap tawakkal itu mesti ada dimanapun dan kapanpun kita melakukan sesuatu..??? jawaban yang paling mudah untuk dipahami oleh otak manusia adalah bahwa semua ini adalah milik Allah, sedangkan manusia dan segala apa yang ada disekitarnya tidak berada dalam penguasaan manusia. Hanya saja Allah menjadikan ini semua dengan sebuah perintah agar manusia memamfaatkannya untuk kelangsungan misi kekhalifahan manusia dibumi. Pada skala terbesar, segala apa yang ada disekitar manusia hendaklah dipakai agar di dunia dimana manusia hidup menjadi aman dan berkeadilan.
Tawakkal tidak serta merta hadir sebelum adanya suatu upaya pencapaian atau proses perwujudan niat. Tawakkal idealnya hadir setelah segala daya upaya baik akal, tenaga telah dipakai seoptimal mungkin. Pada saat inilah pemaknaan mengenai Qadha dan Qadar menjadi mudah difahami. Walaupun untuk sebagian ummat muslim ada yang dimudahkan untuk memahami Qadha dan Qadar, namun ada pula yang masih diberi hambatan oleh Allah dalam memahami konsep ini (Semoga kita termasuk kedalam golongan yang dipermudah untuk memahami Qadha dan Qadar).
Saya melihat, golongan yang masih diberi kesulitan untuk memahami Qadha dan Qadar ini tidak hanya dari golongan orang awan saja. Akan tetapi, banyak juga orang yang telah dianggap berilmu (ulama) memahami persoalan ini dengan menghadirkan konsep-konsep yang banyak dibantah oleh ulama semasanya dan ulama yang belakangan hadir. Secara logika apabila suatu konsep masih terdapat bantahan dan keganjilan padanya, maka patut di kaji ulang dengan menyebutkan kekeliruan yang terdapat pada konsep tersebut. Disisi lain, orang yang membantah juga memiliki konsep yang berkebalikan dari konsep yang dibantah tersebut. Apabila kita membaca mengenai sejarah Islam, maka kita pasti akan menemukan referensi bahwa pada masa dulu telah terjadi perdebatan-perdebatan berkisar tentang Qadha dan Qadar ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar